Teks Eksplansi Jatuhnya Pesawat Terbang Sriwijaya Air SJ 182

NAMA KELOMPOK:   AIDA LAILA SALSABILLA (2)

                                     FITRA KAMILA K (12)

                                     NABILA ISTIKOMAH (28)

                                     NASYA PERMATA AZURRA (31)

                                     SITI SAJDAH CAHYA H (36)

 

KELAS: XI IPS 7

Kelompok 6




Pada 9 Januari 2021, telah terjadi kecelakaan pada pesawat B-737 Sriwijaya Air Flight SJ 182 mengalami musibah setelah  take off dari Soekarno Hatta International Airport Jakarta. Menurut investigasi KNKT, sebelum pesawat terjatuh, throttle atau tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri sempat bergerak mundur. Kondisi ini terjadi saat pesawat berada di ketinggian 8.150 kaki dan 10.600 kaki. Meski begitu, KNKT belum dapat menyimpulkan apakah kedua throttle pesawat mengalami kerusakan. Sebab, baik throttle kanan dan kiri sama-sama menunjukan ketidaknormalan atau anomali. Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo menjelaskan bahwa throttle sebelah kiri bergerak mundur terlalu jauh. Di sisi lain, throttle sebelah kanan tidak bergerak dan terindikasi macet. Dugaan kerusakaan throttle belum dapat disimpulkan sebab throttle tersambung dengan 13 komponen lain dalam bagian pesawat.


Menurut kronologi, Sriwijaya Air SJ 182 mulai tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Banten, pada pukul 14.36 WIB menuju ke Bandara Supadio, Pontianak. Pada pukul 14.38.51 WIB pilot meminta izin pada ATC untuk berbelok ke arah 75 derajat karena kondisi cuaca. Permintaan ini diizinkan oleh ATC. Perubahan arah ini diperkirakan akan menyebabkan Sriwijaya Air SJ 182 bertemu dengan pesawat lain yang juga berangkat dari Soekarno-Hatta dengan tujuan sama. Oleh karenanya, pesawat diminta berhenti naik di ketinggian 11.000 kaki. Ketika melewati ketinggian 10.600 kaki pada pukul 14.39.47 WIB, pesawat berada pada arah 46 derajat dan mulai berbelok ke kiri. Ketika itulah ATC memberi instruksi Sriwijaya Air SJ 182 naik ke ketinggian 13.000 kaki dan dijawab oleh pilot, yang ternyata menjadi  komunikasi terakhir.


Pada 9 Januari 2021, telah terjadi kecelakaan pada pesawat B-737 Sriwijaya Air Flight SJ 182 mengalami musibah setelah take off dari Soekarno Hatta International Airport Jakarta.Sebelum pesawat terjatuh, throttle atau tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri sempat bergerak mundur. Kondisi ini terjadi saat pesawat berada di ketinggian 8.150 kaki dan 10.600 kaki.




Teks Eksplanasi Kelompok 5

RESESI

 

​Secara umum, resesi adalah fenomena menurunnya kondisi ekonomi secara signifikan di suatu wilayah atau negara. Atau secara teori adalah  pertumbuhan negatif Penghasilan Domestik Bruto (PDB) selama 2 kuartal atau lebih secara berturut-turut. Resesi dapat menghasilkan dampak negatif secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti investasi, ekspor-impor, perdagangan, lapangan pekerjaan dan lain sebagainya.

​Ketika terjadi resesi, semua pelaku ekonomi akan merasakan dampkanya. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya, aktivitas ekonomi terjadi ketika setiap individu atau pelaku ekonomi saling bertransaksi,sehingga terbentuk banyaknya koneksi yang saling terkait dengan erat . Salah satu contoh aktivitas ekonomi seperti seorang petani yang membeli benih padi untuk ditanam, kemudian menjualnya kepada para pedagang setelah masa panen. Pedagang tersebut  membeli sebuah truk untuk mengangkut padi dan beras kepada para perusahaan merk beras. Perusahaan-perusahaan tersebut membeli mesin dan mempekerjakan para karyawannya untuk mengemas dan mengangkut beras-beras tersebut kepada para pedagang eceran seperti gerai supermarket sampai ke warung-warung kecil. Banyaknya pihak yang saling terkait membuat  kondisi ekonomi sebenarnya sangat rentan terhadap faktor-faktor internal maupun eksternal yang dapat membuat ekonomi jatuh ke jurang resesi.

Resesi sering diasosiasikan dengan menurunnya harga-harga atau yang disebut sebagai deflasi, atau bahkan kebalikannya, yaitu meningkatnya harga-harga barang secara tajam. Ketika suatu resesi berlangsung lama, maka hal tersebut disebut depresi ekonomi, yaitu suatu keadaan terjadi penurunan aktivitas ekonomi yang parah dan berkepanjangan. Ketika suatu depresi ekonomi sudah semakin parah dan berlangsung lebih Panjang, atau akibat dari hiperinflasi, disebut sebagai kebangkrutan ekonomi.

 

Faktor-faktor Terjadi Resesi

1. Ketimpangan produksi dan konsumsi:

    Daya beli masyarakat atau keseimbangan antara produksi dan konsumsi merupakan dasar dari ekonomi. Namun, ketika adanya ketimpangan antar kedua hal tersebut, terjadi masalah serius dalam perputaran siklus ekonomi. Jika produksi yang tinggi tidak diikuti dengan konsumsi yang tinggi pula, misalnya karena penurunan daya beli, maka kemungkinan besar produsen akan mengalami kerugian bahkan kebangkrutan. Hal ini dapat menyebabkan produsen melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap para karyawannya yang pada akhirnya menyebabkan daya beli masyarakat yang semakin menurun.

2. Utang yang melebihi batas

​Ketika suatu individu atau bisnis memiliki terlalu banyak hutang dan  mengalami default atau gagal bayar, dapat menyebabkan kebangkrutan dalam tingkat personal atau bahkan sampai tingkat global. Hal ini disebabkan ketika mereka mangalami kebangkrutan, maka aset-aset mereka yang dijaminkan atau pemasukan yang mereka punya pada umumnya akan diambil alih oleh para debitur.

3. Penggelembungan aset

​Penggelembungan aset (bubble) adalah kondisi dimana investasi didorong oleh emosi sehingga harga dari suatu aset melebihi dari nilai wajarnya. Sehingga, ketika masyarakat menyadari bahwa suatu aset bernilai jauh dibawah harganya saat ini, maka terjadi penurunan harga yang sangat tajam atau disebut bubble burst. Hal ini menyebabkan para pemilik aset yang sebelumnya membeli aset tersebut di harga yang sangat tinggi merasa panik dan menjualnya di harga yang jauh lebih rendah daripada saat membeli. Menyebabkan kerugian yang fantastis bagi mereka. Salah satu contoh dari fenomena penggelembungan aset adalah fenomena krisis hipotek (mortgage crisis) yang terjadi di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa lainnya pada tahun 2008.



Kaidah Kebahasaan:


a) Menggunakan kata yang bermakna denotatif (makna sebenarnya) :

 

- Fenomena menurunnya kondisi ekonomi secara signifikan di suatu wilayah atau negara.

- Ketika terjadi resesi, semua pelaku ekonomi akan merasakan dampaknya.

 

b) Menggunakan kata teknis atau istilah yang memiliki makna khusus dibidang tertentu:

Resesi sering diasosiasikan dengan menurunnya harga-harga atau yang    disebut sebagai deflasi, meningkatkannya harga-harga barang secara tajam.


c) Menggunakan kata kerja kausuatif: 

ketika terjadi resesi,semua pelaku ekonomi akan merasakan dampaknya.hal ini di sebabkan karena pada dasarnya,aktivitas ekonomi terjadi ketika setiap individu atau pelaku ekonomi saling bertransaksi,sehingga terbentuk banyaknya koneksi yang saling terkait dengan erat.


d) Mengguanakan Kata kerja pasif: -


e) Menggunakan kata keterangan waktu dan kata yang menggunakan fenomena : 

Salah satu contoh dari fenomena penggelembungan aset adalah fenomena krisis hipotek (mortgage crisis) yang terjadi di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa lainnya pada tahun 2008.


f) Menggunakan Kongjungsi :

Kongjungsi kausalitas : 

1. Ketika adanya ketimpangan antar kedua hal tersebut terjadi masalah serius dalam perputaran siklus ekonomi.


2. Hal ini, menyebabkan para pemilik aset yang sebelumnya membeli aset tersebut di harga yang sangat tinggi merasa panik dan menjualnya di harga yang jauh lebihrendah daripada saat membeli.


Kongjungsi Temporal

1. Sehingga terbentuk banyaknya koneksiyang saling terkait dengan erat.

2. Kemudian menjualnyakepada para pedagang setelah masa panen.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teks Prosedur Membuat Bolu Pisang

Teks Eksplanasi Penyalahgunaan Narkoba

Teks Prosedur Cara Membuat Nugget